Minggu, 08 Januari 2017

KATA PENGANTAR
 
Puji syukur  penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya  penulis dapat  menyelesaikan laporan praktikum teknologi landasan ilmu nutrisi ini . Adapun maksud laporan landasan ilmu nutrisi ini adalah untuk memenuhi sebagian syarat dari mata kuliah landasan ilmu nutrisi.  Laporan praktikum  ini disusun berdasarkan hasil pencarian  tentang materi praktikum landasan ilmu nutrisi dibuku-buku maupun di internet.

Tidak lupa penulis ucapkan banyak terima kasih kepada pembimbing praktikum yang telah membantu dalam pelaksanaan praktikum sehingga penulis dapat mendapatkan hasil dari praktikum landasan ilmu nutririsi ini dengan baik .
           
Penulis memohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan laporan  ini. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari semua pihak demi perbaikan laporan ini dimasa yang akan datang.
                                                                                      





                                                                                             
                                                                                    Mataram, Desember 2013


 Penyusun








DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………….................. i
KATA PENGANTAR............................................................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................................ iii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................... 1
1.1 Latar belakang.................................................................................................................. 1
1.2 Tujuan dan kegunaan....................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................ 3
BAB III MATERI DAN METODE PRAKTIKUM.............................................................. 4
3.1 Materi Praktikum............................................................................................................. 4
3.2 Metode Praktikum........................................................................................................... 4
3.3 Tempat Dan Tanggal Praktikum...................................................................................... 5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................... 6
4.1 Hasil praktikum............................................................................................................... 6
            4.2 Pembahasan.......................................................................................................... 6
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................. 9
5.1Kesimpulan.............................................................................................................9
5.2Saran........................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................. 10
LAMPIRAN ………………………………………………………………………………11








BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Salah satu awal perkembangan ilmu nutrisi adalah upaya mendeskripsikan pangan/pakan dalam istilah senyawa kimia atau kelompok senyawa kimia yang mempunyai fungsi yang khas dalam tubuh yang dikenal dengan nutrien. Aspek kajian nutrisi dalam perkembangan selanjutnya adalah nutrien. Nutrien adalah semua unsur atau senyawa kimia dalam pangan/pakan yang menunjang reproduksi, pertumbuhan, laktasi atau kebutuhan hidup pokok. Terdapat enam kelompok nutrien yaitu air, protein dan asam amino, karbohidrat, lemak, vitamin dan unsur inorganik atau mineral. Protein, karbohidrat dan lemek disebut sebagai nutrien makro, sedangkan vitamin dan mineral disebut nutrient mikro. Nutrien makro dibutuhkan tubuh dalam jumlah banyak sedangkan unsur mikro diperlukan dalam jumlah kecil. Energi yang diperlukan ternak dapat disediakan oleh lemak, karbohidrat dan kerangka karbon asam amino. Nutrien menyediakan air, energi,  komponen penyusun dan pengaturan metabolisme sel. Nutrien yang diperlukan keberadaannya dalam pakan dan tidak bisa disintesis dalam tubuh dalam jumlah yang mencukupi disebut nutrien esensial atau indispensible.
Serat adalah zat non gizi yang terdapat di dalam bahan pangan hasil pertanian,terdapat dua jenis macam serat  yaitu ada serat makanan (dietery Fiber) dan serat kasar (crude fiber). Peran utama dari serat dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat air, selulosa dan pektin. Dengan adanya serat,membantu mempercepat sisa-sisa makanan melalui saluran pencernaan untuk disekresikan keluar.
Dari dua macam serat yang ada disini akan dibahas mengenai serat kasar yang terdapat dalam bahan hasil pertanian. Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat dihidriolisis oleh asam ataupun basa kuat, bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam sulfat (H2SO4) dan natrium hidroksida (NaOH)  Serat kasar sangat penting dalam penilaian kualitas bahan makanan karena angka ini merupakan indeks dan menentukan nilai gizi makanan tersebut, selain itu kandungan serat kasar dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu proses pengolahan, misalnya proses penggilingan atau proses pemisahan antara kulit dan kotiledon dengan pemisahan presentase serat dapat dipakai untuk menentukan kemurnian bahan atau efisiensi suatu proses.
Serat makanan hanya terdapat dalam bahan pangan nabati dan kadarnya bervariasi menurut jenis bahan. Kadar serat dalam makanan dapat mengalami perubahan akibat  pegolahan  yang  dilakukan  terhadap bahan asalnya.Serat dapat berperan menghalangi penyerapan zat-zat gizi lain seperti  lemak,karbohidrat, dan protein sehingga apabila makanan  mengandung  kadar  serat  yang  rendah maka hampir semua zat-zat gizi tersebut dapat diserap oleh tubuh.



1.2. Tujuan dan kegunaan paraktikum

1.2.1 Tujuan praktikum
            Adapun tujuan dari praktikum Landasan Ilmu Nutrisi ini adalah untuk mengetahui kadar     
serat kasar dalam suatu pakan.

1.2.2 Kegunaan praktikum
Adapun kegunaan praktikum landasan ilmu nutrisi ini adalah membimbing mahasiswa untuk mengetahui bagaimana mencari kadar serat kasar dalam suatu pakan.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Analisa kadar abu bertujuan untuk memisahkan bahan organik dan bahan anorganik suatu bahan pakan. Kandungan abu suatu bahan pakan menggambarkan kandungan mineral pada bahan tersebut. (Cherney,2000)    

Serat makanan terdiri dari dinding sel tanaman yang sebagian besar mengandung 3 macam polisakarida yaitu selulosa, zat pektin, dan hemiselulosa. Selain itu juga mengandung zat yang terbuka karbohidrat yakni lignin(Djosoebagio, 2002).

Serat kasar merupakan residu dari bahan makana atau hasil pertanian setelah diperlakukan dengan asam atau alkali mendidih, dan terdiri dari selulosa,dengan sedikit lignin dan pentosa. Serat kasar juga merupakan kumpulan dari semua serat yang tidak bisa dicerna, komponen dari serat kasar ini yaitu terdiri dari selulosa, pentosa, lignin, dan komponen-komponen lainnya. Komponen dari serat kasar ini serat ini tidak mempunyai nilai gizi akan tetapi serat ini sangat penting untuk proses memudahkan dalam pencernaan didalam tubuh agar proses pencernaan tersebut lancar (peristaltic) ( Hermayati dkk, 2006).

Prinsip analisa serat kasar yaitu sampel yang dihidrolisis dengan asam kuat dan basa kuat encer. Sehingga karbohidrat, protein, dan zat-zat lain terhidrolisis dan larut, kamudian disaring dan dicuci dengan air panas yang mengandung asam dan alkohol, selanjutnya dikeringkan dan ditimbang (Hermayanti dkk, 2006).

Selulosa dan hemiselulosa dapat dihidrolisis oleh mikroorganisme rumen pada ruminansia menjadi VFA (Volatile Fatty Acid), gas metan (CH4),dan karbohidrat  serta melepaskan energi. Sedangkan lignin adalah bagian yang mengandung dari tanaman mengandung subtansi kompleks yang tidak dapat dicerna. Penentuan kadar serat kasar berdasarkan pada SNI 01-2891-1992, yaituekstraksi sample dengan asam dan basa untuk memisahkan serat kasar dari bahan lainnya (Sudarmadji, 1996).
BAB III
MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

3.1  Materi Praktikum
3.1.1        Alat-alat praktikum
          Adapun alat-alat praktikum yang digunakan adalah sebagai berikut
1. Gelas baker
2. Labu pendingin
3. Kompor pemanas
4. Gelas ukur
5. Vacum fest/pompa vacuum
6. Corong
7. Crussible
8. Tanur
9. Oven
10. Kertas saring
11. Timbangan analitik

3.1.2        Bahan-bahan praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai beikut :
1.  Sampel bebas lemak
2.  Larutan NaOH
3.  Larutan H2SO4
4.  Alkohol
5.  Air

3.2  Metode praktikum
1. Meniimbang sampel
2. Memasukkan sampel dalam gelas beker 600cc
3. Menaambahkan asam sulfat( H2SO4) 0,255 N
4. Melarutkan asam H2S04 0.255N sebanyak 100cc
5. Merebus sampai mendidih dengan kompor 150-200oC
6. Setelah mendidih hitung  selama 30 menit lalu di off
7. Labu pendingin diisi dengan air  dingin 250-300cc
8. Tutup baker glass menggunakan labu pendingin yang sudah di isi air
9.  Lalu setelah di hitung selama 30 menit di saring menggunakan kertas saring
10. Setelah di saring tambahkan NaOH 0,313 sebanyak 100cc/100ml
11. Didihkan lagi selama 30 menit
12. Lalu saring kembali
13. Dan keringkan dalam oven 1050C selama 8-12 jam
14.  Setelah di oven selama 8—12 jam crussible+sampel di timbang
15.  Lalu di bakar dengan tanur dengan suhu 600oC selama 30 menit
16. Kemudian masukkan ke dalam desicator selama 15 menit
17.  Lalu di timbang dan di hitung.


3.3  Tempat dan Tanggal praktikum
Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium  Nutrisi dan Makanan Ternak  Non ruminansia Fakultas Peternakan Universitas Mataram ,pada tanggal 2013, pukul 09:30-12:30.


                                       







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum
                 
                  Tabel :  
Kode
Berat Sampel
Berat Crussible +sampel 1050C
Berat Crussible + sample 600oC
Serat Kasar (%)
14
1,069
23, 622
23, 377
22,9186


                  
4.2 Pembahasan

serat pakan secara kimiawi dapat digolongkan menjadi serat kasar, neutral detergent fiber, acid detergent fiber, acid detergent lignin, selulosa dan hemiselulosa. Peran serat pakan sebagai sumber energi erat kaitannya dengan proporsi penyusun komponen serat seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin serat kasar terdiri dari lignin yang tidak larut dalam alkali, serat yang berikatan dengan nitrogen dan selulosa.  Meningkatnya aktivitas mikroorganisme rumen akan mengakibatkan meningkatnya produksi enzim selulase. Bertambahnya enzim selulase yang merupakan enzim pencerna komponen serat kasar akan meningkatkan nilai kecernaan serat kasar. komponen serat kasar yaitu selulosa dan hemiselulosa. Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat dan didefinisikan sebagai fraksi yang tersisa setelah didigesti dengan larutan asam sulfat standar dan sodium hidroksida pada kondisi terkondisi Serat kasar sebagian besar berasal dari sel dinding tanaman dan mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin .

Pengukuran kadar Serat Kasar :

Timbang sampel masukkan dalam gelas 600cc tambahkan asam sulfat (H2SO4)  0,255 N kemudian larutkan asam sulfat (H2SO4) 0,255 N sebanyak 100cc lalu dididihkan dengan kompor 150-2000C stelah mendidih hitung selama 30 menit lalu di stop untuk penyaringan yang pertama saring menggunakan kertas saring kemudian tambahkan NaOH 0,313N sebanyak 100cc atau 100 ml dan didihkan lagi selama 30 menit dan saring kembali menggunakan crussible, saringan di cuci dengan air panas kemudian dibilas dengan alcohol.
.
*      Residu yang ada pada kertas saring tersebut adalah serat kasar atau yang larut di sebut isi sel sedangkan yang tersisa yaitu serat kasar (selulosa dan mineral)
*      Perebusan dengan H2SO4 bertujuann untuk mengeluarkan isi sel sedangakan
*      perebusan menggunakan NaOH bertujuan untuk menghilangan lignin dan kitin.

Selanjunya untuk mengetahui kadar serat kasar sampel yang sudah di saring menggunakan crussible tersebut dikeringkan dengan oven dengan suhu 1050C kemudian crussible+sampel 105 0C di timbang lalu dibakar dalam tanur dengan suhu 600 0C selama 30 menit kemudian masukkan dalam desicator selama 15 menit lalu di timbang.
*      Abu yang masih kehitam hitaman berarti masih terdapat bahan organic atau di sebut  belum terbakar sempurna .
*      Apabila sudah menunjukan warna putih di sebut abu atau mineral berarti sudah terbakar sempurna
*      Fungsi desicator yaitu agar tidak berrsentuhan dengan udara dalam desicator terdapt batu-batu kecil putih yang di sebut absorben berfungsi untuk menyerap air.

*      Kadar serat kasar dapat di tentukan dengan rumus :
            RUMUS:
%  Serat Kasar  =


          Fraksi serat kasar mengandung selulosa, lignin, dan hemiselulosa, akan tetapi bukan berarti semua bahan ini harus ada pada makanan (dengan proporsi yang berbeda diantaranya terdapat pada ekstrak tanpa nitrogen) tergantung pada species dan fase pertumbuhan bahan tanaman. Serat kasar pada mulanya telah diduga memberikan gambaran tentang bagian makanan yang tidak dapat dicerna, akan tetapi sebagian diantaranya dapat dicerna oleh hewan ruminansia.
           Analisa kadar abu bertujuan untuk memisahkan bahan organik dan bahan anorganik suatu bahan pakan. Kandungan abu suatu bahan pakan menggambarkan kandungan mineral pada bahan tersebut. abu terdiri dari mineral yang larut dalam detergen dan mineral yang tidak larut dalam detergen  Kandungan bahan organik suatu pakan terdiri protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) .


















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kita ambil dari praktikum ini antara lain:
                                                                             
Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat dan didefinisikan sebagai fraksi yang tersisa setelah didigesti dengan larutan asam sulfat standar dan sodium hidroksida pada kondisi terkondisi Serat kasar sebagian besar berasal dari sel dinding tanaman dan mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin




5.2  Saran
Saran yang dapat diambil dari hal ini adalah untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat sebaiknya saat penimbangan dan analisis, harus lebih cermat dalam menimbang dan mengetahui pengaruh-pengaruh sampel yang di ujikan. Agar pada saat menyusun embahasan diketahui pengaruhnya terhadap hasil percobaan.


                             





                       

DAFTAR PUSTAKA

Cherney,2000. Pengantar Ilmu Nutrisi Hewan. Bagian Fisiologi dan Farmakologi FakultasKedokteran Hewan IPB. (Tidak dipublikasi)

Djosoebagio, 2002.Fisiologi Nutrisi. Vol. I. Edisi Ke-4. IPB Press, Bogor

Hermayanti, Yeni, Eli Gusti. 2006. Modul Analisis Proksimat. Padang : SMAK

Sudarmadji, Slamet. et al. 1996. Prosedur Analisis Bahan Makanan dan Pertanian.Yogyakarta: Penerbit Liberty.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar