KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya
penulis dapat menyelesaikan
laporan praktikum teknologi landasan ilmu nutrisi ini . Adapun maksud laporan
landasan ilmu nutrisi ini adalah untuk memenuhi sebagian syarat dari mata
kuliah landasan ilmu nutrisi. Laporan
praktikum ini disusun berdasarkan hasil
pencarian tentang materi praktikum
landasan ilmu nutrisi dibuku-buku maupun di internet.
Tidak lupa penulis ucapkan banyak terima kasih kepada pembimbing
praktikum yang telah membantu dalam pelaksanaan praktikum sehingga penulis
dapat mendapatkan hasil dari praktikum landasan ilmu nutririsi ini dengan baik
.
Penulis memohon maaf apabila
terdapat banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan laporan ini. Kritik dan saran yang membangun sangat
penulis harapkan dari semua pihak demi perbaikan laporan ini dimasa yang akan
datang.
Mataram,
Desember 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
…………………………………………………………….................. i
KATA PENGANTAR............................................................................................................. ii
HALAMAN
PENGESAHAN................................................................................................ iii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... iv
BAB I
PENDAHULUAN...................................................................................................... 1
1.1 Latar belakang.................................................................................................................. 1
1.2 Tujuan dan
kegunaan....................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA............................................................................................ 3
BAB III MATERI
DAN METODE PRAKTIKUM.............................................................. 4
3.1 Materi Praktikum............................................................................................................. 4
3.2 Metode Praktikum........................................................................................................... 4
3.3 Tempat Dan Tanggal Praktikum...................................................................................... 5
BAB IV HASIL DAN
PEMBAHASAN............................................................................... 6
4.1 Hasil
praktikum............................................................................................................... 6
4.2 Pembahasan.......................................................................................................... 6
BAB V KESIMPULAN
DAN SARAN................................................................................. 9
5.1Kesimpulan.............................................................................................................9
5.2Saran........................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................. 10
LAMPIRAN ………………………………………………………………………………11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Salah
satu awal perkembangan ilmu nutrisi adalah upaya mendeskripsikan pangan/pakan
dalam istilah senyawa kimia atau kelompok senyawa kimia yang mempunyai fungsi
yang khas dalam tubuh yang dikenal dengan nutrien. Aspek kajian nutrisi dalam
perkembangan selanjutnya adalah nutrien. Nutrien adalah semua unsur atau
senyawa kimia dalam pangan/pakan yang menunjang reproduksi, pertumbuhan,
laktasi atau kebutuhan hidup pokok. Terdapat enam kelompok nutrien yaitu air,
protein dan asam amino, karbohidrat, lemak, vitamin dan unsur inorganik atau
mineral. Protein, karbohidrat dan lemek disebut sebagai nutrien makro,
sedangkan vitamin dan mineral disebut nutrient mikro. Nutrien makro dibutuhkan
tubuh dalam jumlah banyak sedangkan unsur mikro diperlukan dalam jumlah kecil.
Energi yang diperlukan ternak dapat disediakan oleh lemak, karbohidrat dan
kerangka karbon asam amino. Nutrien menyediakan air, energi, komponen
penyusun dan pengaturan metabolisme sel. Nutrien yang diperlukan keberadaannya
dalam pakan dan tidak bisa disintesis dalam tubuh dalam jumlah yang mencukupi
disebut nutrien esensial atau indispensible.
Serat adalah zat non gizi yang terdapat di
dalam bahan pangan hasil pertanian,terdapat dua jenis macam serat
yaitu ada serat makanan (dietery Fiber) dan
serat kasar (crude fiber). Peran utama dari serat
dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat air, selulosa dan
pektin. Dengan adanya serat,membantu mempercepat sisa-sisa makanan melalui
saluran pencernaan untuk disekresikan keluar.
Dari dua macam serat yang ada disini akan
dibahas mengenai serat kasar yang
terdapat
dalam bahan hasil pertanian. Serat kasar
adalah bagian dari pangan yang
tidak
dapat dihidriolisis oleh asam ataupun basa kuat, bahan-bahan kimia yang
digunakan
untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam sulfat (H2SO4) dan natrium hidroksida
(NaOH) Serat kasar sangat penting dalam
penilaian kualitas bahan makanan karena
angka ini merupakan indeks dan menentukan nilai
gizi makanan tersebut, selain
itu
kandungan serat kasar dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu proses
pengolahan, misalnya proses penggilingan atau proses
pemisahan antara kulit dan kotiledon dengan pemisahan presentase serat dapat dipakai untuk
menentukan kemurnian bahan atau efisiensi suatu proses.
Serat makanan hanya terdapat dalam bahan
pangan nabati dan kadarnya bervariasi menurut jenis bahan. Kadar serat
dalam makanan dapat
mengalami perubahan akibat pegolahan yang dilakukan
terhadap bahan asalnya.Serat dapat berperan menghalangi penyerapan
zat-zat gizi lain seperti lemak,karbohidrat,
dan protein sehingga apabila makanan mengandung
kadar serat yang
rendah maka hampir semua zat-zat gizi tersebut
dapat diserap oleh tubuh.
1.2. Tujuan dan kegunaan paraktikum
1.2.1 Tujuan praktikum
Adapun tujuan dari praktikum
Landasan Ilmu Nutrisi ini adalah untuk mengetahui kadar
serat kasar dalam suatu
pakan.
1.2.2 Kegunaan praktikum
Adapun kegunaan praktikum landasan ilmu nutrisi ini adalah membimbing
mahasiswa untuk mengetahui bagaimana mencari kadar serat kasar dalam suatu
pakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Analisa kadar abu
bertujuan untuk memisahkan bahan organik dan bahan anorganik suatu bahan pakan.
Kandungan abu suatu bahan pakan menggambarkan kandungan mineral pada bahan
tersebut. (Cherney,2000)
Serat makanan terdiri dari dinding sel tanaman
yang sebagian besar mengandung 3 macam polisakarida yaitu selulosa, zat pektin,
dan hemiselulosa. Selain itu juga mengandung zat yang terbuka karbohidrat yakni
lignin(Djosoebagio, 2002).
Serat kasar merupakan residu dari bahan makana atau
hasil pertanian setelah diperlakukan dengan asam atau alkali mendidih, dan terdiri
dari selulosa,dengan sedikit lignin dan pentosa. Serat kasar juga merupakan
kumpulan dari semua serat yang tidak bisa dicerna, komponen dari serat kasar
ini yaitu terdiri dari selulosa, pentosa, lignin, dan komponen-komponen
lainnya. Komponen dari serat kasar ini serat ini tidak mempunyai nilai gizi
akan tetapi serat ini sangat penting untuk proses memudahkan dalam pencernaan
didalam tubuh agar proses pencernaan tersebut lancar (peristaltic) ( Hermayati
dkk, 2006).
Prinsip analisa serat kasar yaitu sampel yang
dihidrolisis dengan asam kuat dan basa kuat encer. Sehingga karbohidrat,
protein, dan zat-zat lain terhidrolisis dan larut, kamudian disaring dan dicuci
dengan air panas yang mengandung asam dan alkohol, selanjutnya dikeringkan dan
ditimbang (Hermayanti dkk, 2006).
Selulosa dan hemiselulosa dapat dihidrolisis
oleh mikroorganisme rumen pada ruminansia menjadi VFA (Volatile Fatty Acid),
gas metan (CH4),dan karbohidrat serta
melepaskan energi. Sedangkan lignin adalah bagian yang mengandung dari tanaman
mengandung subtansi kompleks yang tidak dapat dicerna. Penentuan kadar serat
kasar berdasarkan pada SNI 01-2891-1992, yaituekstraksi
sample dengan asam dan basa untuk memisahkan serat kasar dari bahan lainnya
(Sudarmadji, 1996).
BAB
III
MATERI
DAN METODE PRAKTIKUM
3.1 Materi Praktikum
3.1.1
Alat-alat
praktikum
Adapun alat-alat praktikum yang
digunakan adalah sebagai berikut
1. Gelas baker
2. Labu pendingin
3. Kompor pemanas
4. Gelas ukur
5. Vacum fest/pompa vacuum
6. Corong
7. Crussible
8. Tanur
9. Oven
10. Kertas saring
11. Timbangan
analitik
3.1.2
Bahan-bahan praktikum
Adapun
bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai beikut :
1. Sampel bebas lemak
2. Larutan NaOH
3. Larutan H2SO4
4. Alkohol
5. Air
3.2 Metode praktikum
1. Meniimbang sampel
2. Memasukkan sampel dalam gelas beker 600cc
3. Menaambahkan asam sulfat( H2SO4) 0,255 N
4. Melarutkan asam H2S04 0.255N sebanyak 100cc
5. Merebus sampai mendidih dengan kompor 150-200oC
6. Setelah mendidih hitung selama
30 menit lalu di off
7. Labu pendingin diisi dengan air
dingin 250-300cc
8. Tutup baker glass menggunakan labu pendingin yang sudah di isi air
9. Lalu setelah di hitung selama
30 menit di saring menggunakan kertas saring
10. Setelah di saring tambahkan NaOH 0,313 sebanyak 100cc/100ml
11. Didihkan lagi selama 30 menit
12. Lalu saring kembali
13. Dan keringkan dalam oven 1050C selama 8-12 jam
14. Setelah di oven selama 8—12
jam crussible+sampel di timbang
15. Lalu di bakar dengan tanur
dengan suhu 600oC selama 30 menit
16. Kemudian masukkan ke dalam desicator selama 15 menit
17. Lalu di timbang dan di hitung.
3.3 Tempat dan Tanggal praktikum
Praktikum ini
dilaksanakan di laboratorium Nutrisi dan
Makanan Ternak Non ruminansia Fakultas
Peternakan Universitas Mataram ,pada tanggal 2013, pukul 09:30-12:30.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Tabel :
Kode
|
Berat Sampel
|
Berat Crussible +sampel 1050C
|
Berat Crussible + sample 600oC
|
Serat Kasar (%)
|
14
|
1,069
|
23, 622
|
23, 377
|
22,9186
|
4.2
Pembahasan
serat pakan secara kimiawi dapat digolongkan menjadi
serat kasar, neutral detergent fiber, acid detergent fiber, acid
detergent lignin, selulosa dan hemiselulosa. Peran serat pakan sebagai
sumber energi erat kaitannya dengan proporsi penyusun komponen serat seperti
selulosa, hemiselulosa dan lignin serat kasar terdiri dari lignin yang tidak
larut dalam alkali, serat yang berikatan dengan nitrogen dan selulosa. Meningkatnya aktivitas mikroorganisme rumen
akan mengakibatkan meningkatnya produksi enzim selulase. Bertambahnya enzim
selulase yang merupakan enzim pencerna komponen serat kasar akan meningkatkan
nilai kecernaan serat kasar. komponen serat kasar yaitu selulosa dan
hemiselulosa. Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat dan didefinisikan
sebagai fraksi yang tersisa setelah didigesti dengan larutan asam sulfat
standar dan sodium hidroksida pada kondisi terkondisi Serat kasar sebagian
besar berasal dari sel dinding tanaman dan mengandung selulosa, hemiselulosa
dan lignin .
Pengukuran kadar Serat Kasar :
Timbang
sampel masukkan dalam gelas 600cc tambahkan asam sulfat (H2SO4) 0,255 N kemudian larutkan asam sulfat (H2SO4)
0,255 N sebanyak 100cc lalu dididihkan dengan kompor 150-2000C
stelah mendidih hitung selama 30 menit lalu di stop untuk penyaringan yang
pertama saring menggunakan kertas saring kemudian tambahkan NaOH 0,313N sebanyak
100cc atau 100 ml dan didihkan lagi selama 30 menit dan saring kembali
menggunakan crussible, saringan di cuci dengan air panas kemudian dibilas
dengan alcohol.
.
Selanjunya
untuk mengetahui kadar serat kasar sampel yang sudah di saring menggunakan
crussible tersebut dikeringkan dengan oven dengan suhu 1050C
kemudian crussible+sampel 105 0C di timbang lalu dibakar dalam tanur
dengan suhu 600 0C selama 30 menit kemudian masukkan dalam desicator
selama 15 menit lalu di timbang.
RUMUS:
% Serat Kasar =
Fraksi serat kasar mengandung
selulosa, lignin, dan hemiselulosa, akan tetapi bukan berarti semua bahan ini
harus ada pada makanan (dengan proporsi yang berbeda diantaranya terdapat pada
ekstrak tanpa nitrogen) tergantung pada species dan fase pertumbuhan bahan
tanaman. Serat kasar pada mulanya telah diduga memberikan gambaran tentang
bagian makanan yang tidak dapat dicerna, akan tetapi sebagian diantaranya dapat
dicerna oleh hewan ruminansia.
Analisa kadar abu bertujuan untuk memisahkan
bahan organik dan bahan anorganik suatu bahan pakan. Kandungan abu suatu bahan
pakan menggambarkan kandungan mineral pada bahan tersebut. abu terdiri dari
mineral yang larut dalam detergen dan mineral yang tidak larut dalam
detergen Kandungan bahan organik suatu
pakan terdiri protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa
nitrogen (BETN) .
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun
kesimpulan yang dapat kita ambil dari praktikum ini antara lain:
Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat
dan didefinisikan sebagai fraksi yang tersisa setelah didigesti dengan larutan
asam sulfat standar dan sodium hidroksida pada kondisi terkondisi Serat kasar
sebagian besar berasal dari sel dinding tanaman dan mengandung selulosa,
hemiselulosa dan lignin
5.2
Saran
Saran yang dapat diambil dari hal ini adalah
untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat sebaiknya saat penimbangan dan
analisis, harus lebih cermat dalam menimbang dan mengetahui pengaruh-pengaruh
sampel yang di ujikan. Agar pada saat menyusun
embahasan diketahui pengaruhnya terhadap hasil percobaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Cherney,2000.
Pengantar Ilmu Nutrisi Hewan. Bagian
Fisiologi dan Farmakologi FakultasKedokteran Hewan IPB. (Tidak dipublikasi)
Djosoebagio, 2002.Fisiologi Nutrisi. Vol. I. Edisi
Ke-4. IPB Press, Bogor
Hermayanti, Yeni, Eli Gusti. 2006. Modul
Analisis Proksimat. Padang : SMAK
Sudarmadji, Slamet. et al. 1996. Prosedur
Analisis Bahan Makanan dan Pertanian.Yogyakarta: Penerbit Liberty.